Sabtu, 01 Februari 2014

Selayang Pandang Kampus Kami (STAI Al-Azhar Gowa)


Pengantar 
     STAI Al-Azhar Gowa, Sebuah institusi pendidikan tinggi dikelola Yayasan Al-Azhar Makassar yang mendapat Ijin Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI membina program studi Ekonomi Syari'ah (S1) dan Ahwal Syakhshiyah (S1) Desain kurikulum perpaduan kurikulum pembelajaran universitas di Timur Tengah, kurikulum nasional Kementrian Agama RI dan desain kurikulkum lokal yang diajarkan melalui pendekatan penelitian ilmiah dan aplikasi praktis dibimbing oleh dosen kompeten alumni dalam dan luar negeri serta bimbingan dosen khusus praktisi ekonomi, keuangan, perbankan dan hukum dari lembaga kredibel. Di dukung kampus yang dibentuk menjadi lingkungan yang kondusif sebagai arus besar dalam membentuk semangat dalam aplikasi nilai-nilai Islam serta pembentukan karakter islami

Visi dan Misi 
Visi 
Menjadi Perguruan Tinggi Islam terdepan di Indonesia Timur yang Berkarakter Islami, Mandiri dan Berwawasan Global

Misi 
  1. Menyiapkan lulusan yang religius mandiri dan berwawasan global.
  2. Menerapkan kurikulum pembelajaran berbasis syaksiyah Islamiyah mutakamilah (Islamic Character).
  3. Membangun jaringan yang luas kepada semua pihak baik pemerintah, BUMN, sektor usaha, maupun swasta.
  4. Menumbuhkan semangat keunggulan pada diri mahasiswa dalam keilmuan, dunia kerja dan pelayanan masyarakat.
  5. Menciptakan lingkungan pendidikan yang Islami berbasis Informasi Teknologi

Dosen Pengajar
  1. Dr. Najamuddin Mara Hamid, Lc., MA. (Univ. Umdurman Sudan/ UIN Alauddin Makassar)
  2. Dr. Hasanna Lawang, Lc., M.EI. (LIPIA Jakarta/ UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
  3. Dr. H. Mujetaba Mustafa, M. Ag. (UIN Alauddin Makassar)
  4. Dr. H. Abdul Qahar Zainal, Lc., MA. (LIPIA Jakarta/ Univ. El-Nilein Sudan)
  5. Dr. H. Safaruddin Rappe, MA. (Univ. Liga Arab, Mesir)
  6. Dr. H. Mukhlis Bakri, Lc., MA. (Univ. Al-Iman Yaman/ Univ. Kebangsaan Malaisya)
  7. Dr. H. Yusri Arsyad, Lc., MA. (Univ. Az-Zaituniyah, Tunisia)
  8. H. Muhammad Thalib Bonto, Lc., M. Phill. (Univ. Islam Islamabad, Pakistan)
  9. H. Muhammad Yusuf Abd. Mannan, Lc., MA. (Univ. Umdurman, Sudan)
  10. H. Abdurrauf Rasyid, Lc., MA. (Univ. Islam Madinah, Saudi Arabia)
  11. H. Abdurrahman Sakka, Lc., MA. (Univ. Al-Azhar, Mesir) 
  12. H. Ismail Kappaja, Lc. (Univ. Al-Azhar Kairo, Mesir) 
  13. H. Arsul Maddupe, Lc. (Univ. Omdurman Sudan) 
  14. Hj. Wardah Jaffar, Lc.,M. EI. (UMI Makassar) 
  15. Hj. Rusniah Darussalam, Lc.,M.Ag (IAIN Sunan Gunung Djati Bandung) 
  16. Hj.Siti Salmah Bustamin, Lc (Univ. Al-Azhar Kairo, Mesir) 
  17. Hj. Zaenab Abdullah, Lc., M. Th.I. (Univ. Al-Azhar Kairo, Mesir) 
  18. Hj. Ni’matuzzahrah, Lc., M. Th. I. (Univ. Al-Azhar Kairo, Mesir) 
  19. Ahmad Baharuddin, Lc., M. Th.I. (Univ. Al-Azhar Kairo, Mesir) 
  20. Abdul Rahman Zain, Lc., M. Th.I. (Univ. Al-Azhar Kairo, Mesir) 
  21. Ammar Munir, Lc., M.Th.I. (Univ. Al-Azhar Kairo, Mesir) 
  22. A. Hadi Ibrahim Baso, SS.MA. (Univ. Muslim Indonesia)
  23. Jumadil Muhammad, SS. (Univ. Muslim Indonesia)
  24. Munawar Ahmad, S.H., MH. (Univ. Muslim Indonesia)

Untuk lebih jelasnya silahkan klik http://staialazhar.blogspot.com/

Kamis, 30 Januari 2014

SILATDA & JAMBORE 1 FSLDK SESULSELBAR

Alhamdulillah kegiatan Silaturrahmi Daerah (SILATDA) dan Jambore 1 Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Se Sulawesi Selatan dan Barat (SulSelBar)berjalan dengan baik tanpa adanya hambatan.

Lembaga Dakwah kampus (LDK) yang turut serta meramaikan acara tersebut ialah :
1. LDK Al-Azhar Makassar,
2. LDK Al-Insyirah Bone,
3. LDK Al-Jami' UIN Alauddin Makassar, dan
4. LDK Ruhul Jadid Pangkep.

Kegiatan dilakukan di dua tempat, yaitu : Taman Wisata Sumpang Bita & Kawasan Wisata Leang Londrong. Kedua tempat ini masih berada di daerah Pangkep. Di Taman Wisata Sumpang Bita terdapat Wisata Tangga Seribu, Beberapa Villa, Kolam permandian yang berada di puncak tangga seribu, dan dua buah gua yang juga berada di puncak tangga seribu; sedangkan di Kawasan Leang Londrong terdapat sebuah gua yang agak seram karena banyak terdapat sesajian di dalam mulut gua tersebut, kolam renang yang cukup unik karena berada diantara mulut gua dan gunung yang berdiri tegak, serta dua buah gubuk kecil.

Lokasi yang kedua ini (kawasan wisata Leang Londrong, Pangkep) cukup menantang, karena berada diantara gunung-gunung yang menjulang tinggi dimana sewaktu-waktu melepaskan peluruh berupa batu yang berada di genggamannya, terdapatnya sebuah gua yang cukup seram karena di dalam mulut gua tersebut terdapat sesajian, aliran air sungai yang cukup deras seolah melambai penuh makna, sebuah kolam yang di dalamnya terdapat seekor ular(kata salah seorang warga setempat), agak jauh dari perumahan warga, adanya babi hutan yang sering berkeliaran di siang dan di malam hari, dan masih banyak lagi deh keunikan lainnya.

Kawasan Wisata Sumpang Bita Pangkep

Puncak Tangga Seribu didepan mulut Gua & Kolam Renang

Akh. Hamka & Akh. Wawan Sedang menikmati kesegaran kolam renang puncak tangga seribu

Mangarungi Tangga Seribu

Jembatan Sumpang Bita

Asyiiik, lagi sarapan pagi nih !

Materi "Aktifis Dakwah Siaga Bencana"

Tiba di lokasi yang ke 2 (Kawasan Wisata Leang Londrong, Pangkep)

Gua Sesajian

Akh. Irham (memakai jaket LDK Al-Insyirah Bone) & Akh. Nurdin (memakai jaket LDK Al-Azhar Makassar)

Sahabat yang tak tergantikan (Kader LDK Al-Insyirah Bone & Kader LDK Al-Azhar Makassar)

Kader Akhwat LDK Al-Insyirah Bone beristirahat di sebuah gubuk dekat kolam

Beberapa kader akhwat tiba di lokasi

Akh. Wawan (kader LDK Al-Jami' UIN Alauddin Makassar) "Mantap, Allahu Akbar"

Serah-Terima Amanah tuang rumah pelaksanaan Silatda & Jambore SeSulSel-Bar

Allahu Akbar...!!!

Kediaman kakak mertua akh. Nurdin

Begitu indah tuk dilupakan...!!!

Insya Allah, kegiatan Silatda & Jambore II FSLDK SeSulSel-Bar akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2014 di Bone dan yang akan menjadi tuang rumah LDK Al-Insyirah Bone. diharapkan kepada semua LDK yang ada di wilayah SulSel-Bar agar mempersiapkan diri ikut serta dalam kegiatan tersebut.

keterlibatan kita dalam suatu kegiatan dakwah (kecil maupun besar) adalah salah satu bentuk amal jama'i sebagai pelopor perubahan.

Tatap semangat, Allahu Akbar...!!!

Rabu, 29 Januari 2014

Agenda Rapat LDK Al-Azhar Rabu, 29 Januari 2014

Pembahasan :
1. Pemahaman tentang Profil LDK Al-Azhar
2. Pembenahan Struktur LDK Al-Azhar
3. Evaluasi Program Kerja
4. Penetapan Program Kerja
5. Pembentukan Tim Strategi Dakwah

Peserta Ikhwan :
1. Irham Rahmat
2. Abdul Salam
3. Abdullah Dedibes
4. Muhammad Nurdin
5. Asis
6. Aswar Ashari
7. Muh. Hasan Sebyar
8. Ansar

Peserta Akhwat :
1. Sulfiyanti
2. Masyita
3. Salmah
4. Hijrah
5. Sitti patimah
6. Riska wahyuni
7. Ana laila

Penetapan Program Kerja Sementara :
1. Sarasehan Daerah di Makassar, Maret 2014
2. FSLDKD VII di Mamuju, Maret 2014
3. Silatda & Jambore II di Bone, Agustus 2014
4. Pembinaan Taman Bacaan Masyarakat
5. Pembinaan Lembaga Dakwah Sekolah
6. Pemberdayaan Sumber Daya Masjid
7. Kajian Pekanan
8. Kajian Keakhwatan
9. Pelatihan Jurnalistik
10. Festival Muslim Kreatif

Bicarakan Ide - Bukan Gosip!

"Siapapun yang bergosip padamu, akan
bergosip tentang dirimu"- Pepatah Spanyol

Dear Sahabat,

Anda pasti pernah mendengar pepatah
ini; bahwa orang-orang besar senang
berbicara tentang ide-ide, sementara
orang biasa-biasa suka berbicara
tentang diri mereka sendiri dan
orang-orang kecil suka berbicara
tentang orang lain.

Itulah gosip. Gosip membuat orang
menjadi kecil. Tidak ada sesuatu yang
bisa ditawarkan dalam gosip. Gosip
hanya mengurangi kredibilitas orang
membicarakan dan yang dibicarakan
serta bisa menghancurkan orang yang
mendengarkan.

Berhenti menyebarkan gosip dan
menjadi penerima gosip. Jika Anda
menghentikan gosip yang diteruskan
hanya sampai pada Anda, Anda akan
memperbaiki kehidupan orang lain dan
diri Anda lebih baik lagi.

Lagipula, orang yang menceritakan
gosip pada kita, biasanya akan
menggosipkan kita juga.

Orang yang memiliki integritas tidak
suka mengumbar omongan tentang orang
lain di belakangnya. Jika memiliki
masalah dengan seseorang, ia lebih
baik mendatangi orang tersebut dan
membicarakan masalahnya, tidak pernah
melalui orang ketiga.

Mereka juga akan memuji orang secara
terbuka dan mengkritik orang secara
pribadi.

Jika Anda adalah orang besar,
berhentilah membicarakan orang lain
dan mari membicarakan ide-ide besar
yang bisa mengubah dunia! :-)

Anne Ahira

////////////////////////////////////////
Sponsor:

Anda punya teman UKM?
Tolong beritahu mereka tentang www.AsianBrain.com
Agar mereka bisa mulai mempromosikan produknya
secara online! :-)

Senin, 13 Januari 2014

Visi Misi Lembaga Dakwah Kampus

A. Posisi Strategis Penentuan Visi dan Misi LDK
Apa yang telah diungkapkan di atas merupakan pedoman yang berlaku umum dalam konteks dakwah kampus. Pedoman tersebut akan dilaksanakan oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK) untuk mencapai tujuan dakwah secara umum dan tujuan dakwah kampus secara khusus. Sebagai sebuah organisasi, sewajarnya jika dalam kegiatan dakwah di kampus, LDK terlebih dahulu menetapkan visi dan misi sebagai arahan organisasi. Bagaimana visi misi tersebut dalam konteks kegiatan LDK sebenarnya dan bagaimana langkah-langkah pembentukannya akan dibahas pada bagian ini.

Masyarakat kampus memiliki ciri dan kondisi yang amat berbeda dengan masyarakat lainnya. Perbedaan ini nampak jelas dalam aspek: kecepatan bergerak, perubahan anggotanya yang terus-menerus, dan interaksinya dengan berbagai situasi yang ada baik di kampus, masyarakat, maupun negara. Oleh karena itu, menjadi wajar jika pengguliran roda dakwah melalui LDK seringkali harus melalui pertarungan sampingan yang terkadang sulit untuk diatasi dan menambah beban para pengelolanya.

Berkaitan dengan hal itu, dakwah melalui LDK tidak hanya sekadar membutuhkan pengelolaan/manajemen (idaroh), yakni pengelolaan sesuatu dengan benar; tetapi juga membutuhkan kepemimpinan (pemimpin), yakni pemilihan hal-hal yang benar dan tepat. Dengan kata lain, pemimpin bertugas menentukan apa-apa yang penting dan benar serta mendorong yang lain untuk mewujudkannya. Jadi, adalah tugas pemimpin untuk memandang sesuatu secara global tanpa mencampuradukkan dengan detil-detilnya dan mendorong kepada hal-hal yang belum terwujud dalam kenyataan.

Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan oleh pemimpin ialah melakukan perencanaan strategis. Dalam hal ini yang dimaksud dengan perencanaan strategis ialah menciptakan gambaran pemikiran kerja masa depan yang harus berbeda dengan kondisi sekarang, lalu ditentukan sarana-sarana yang dapat digunakan untuk mewujudkan pemikiran tersebut dan apa saja yang mungkin menghalanginya. Perencanaan tersebut merupakan upaya terstruktur dan efektif untuk mencapai kemampuan dan kerja, dan dapat menggambarkan hakikat sebuah lembaga, serta mengandung kejelasan apa yang harus dilakukan dan mengapa hal itu harus dilakukan.

Dalam melakukan perencanaan strategis ini terdapat beberapa fase yang harus dilalui yang berhubungan erat satu dengan yang lain:
1. Fase inisiatif dan kesepakatan.
Pada fase ini yang dilakukan ialah:
 Menentukan pihak pengambil keputusan atau hal-hal lain yang mempengaruhinya baik di dalam maupun di luar lembaga.
 Menentukan pihak yang terlibat dalam proses perencanaan strategis.
 Menentukan langkah-langkah yang ditempuh dalam perencanaan strategis.

2. Fase penetapan misi lembaga dan prinsip nilainya.
Keberadaan LDK sebagai lembaga sesungguhnya hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Dalam hal ini, LDK memiliki misi yang ingin direalisasikan sebagai wujud keberadaan dirinya. Misilah yang akan menjelaskan maksud dan tujuan(visi) lembaga, menghindarkan lembaga dari perselisihan yang tidak perlu, dan membantu para anggota lembaga untuk berpikir positif. Selain itu, misi berfungsi pula sebagai daya tarik bagi orang lain untuk bergabung dengannya karena di situ terdapat sasaran dan pandangan lembaga. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan misi sebuah lembaga:
 Siapa kita?
 Apa maksud dan tujuan keberadaan kita?
 Masalah apa yang ingin kita pecahkan?
 Apa yang akan kita lakukan untuk memecahkan masalah tersebut?
 Apa filosofi dan prinsip nilai yang kita miliki?
 Kekhususan apa yang kita miliki dan tidak dimiliki oleh orang lain?

3. Menilai/mengukur lingkungan eksternal dan internal lembaga.
Fase ini diperlukan untuk menentukan titik kekuatan dan kelemahan, serta kesempatan dan peluang lembaga untuk dimanfaatkan, dan untuk menutupi kelemahan yang ada.

4. Menentukan masalah-masalah sentral dan strategis.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam fase ini:
 Masalah harus jelas, tertentu dan tertulis, kemudian lembaga memiliki sesuatu yang dapat dilakukan untuk menghadapinya.
 Harus pula disebutkan hal-hal nyata yang membuat masalah tersebut menjadi masalah yang strategis.
 Harus pula ditentukan apa akibat yang akan timbul jika masalah tersebut tidak ditangani.
 Masalah-masalah tersebut harus disusun dalam skala prioritas dan tingkat keperluan yang mendesak

5. Membuat strategi untuk menangani masalah-masalah sentral tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan dari masing-masing kampus dan kesiapan dari aktivis dakwah kampus tersebut, dalam hal ini adalah aktivis LDK.

6. Meletakkan pandangan yang tajam terhadap masa depan lembaga. Pandangan ini akan sangat membantu para anggota yang tergabung dalam lembaga untuk memiliki kejelasan persepsi dan proyeksi masa depan, mengetahui peran yang dituntut dari setiap anggota, dan karakter tugas yang akan dibebankan kepada mereka. Oleh karena itu, pandangan ini diupayakan sejelas mungkin untuk menghindari kemungkinan salah tafsir, harus pula menarik, mendorong dan membangkitkan semangat serta berkesan di hati.

Demikianlah, posisi strategis penentuan visi-misi dalam konteks perencanaan strategis LDK yang dilakukan sebagai fungsi pemimpin.

Dalam literatur lain, disebutkan bahwa untuk membentuk sebuah tim/lembaga yang dinamis dibutuhkan beberapa tahapan utama. Proses ini dapat dibayangkan tak ubahnya seperti mendaki gunung. Dalam hal ini dibutuhkan perencanaan, strategi, dan tentu saja kerja keras untuk menaklukkan gunung tersebut. Puncak gunung tersebut tidak mungkin ditaklukkan dalam waktu semalam, namun jika tim tersebut tekun, terus menerus bergerak naik, meski perlahan akan diperoleh hasil yang menggembirakan. Dan pada akhirnya, jika tim tersebut telah mencapai puncak kinerjanya, sangat mungkin tim tersebut terpeleset jatuh sehingga penting untuk bangkit kembali guna mempertahankan kinerja puncaknya.

Jadi, lengkapnya tahapan tersebut meliputi:
 Menetapkan arah
Pada tahapan ini, sebuah tim harus memfokuskan diri pada misi dan membuat garis besar jalur yang akan ditempuh selama perjalanan ke depan. Pada tahap inilah, tim tersebut akan menentukan tujuan, prioritas, dan peraturan bagi dirinya.

 Bergerak
Pada tahap ini, sebuah tim akan memulai mendorong dirinya mendaki gunung dengan cara memastikan bahwa peran dan tanggung jawab seluruh anggota tim ditetapkan dengan jelas. Selain itu, pada tahap ini, tim tersebut harus pula menghadapi berbagai kendala yang harus diatasi.

 Mempercepat gerak
Melalui tahap ini, produktivitas tim akan dapat naik dengan cepat. Untuk itu, tim tersebut harus dapat memanfaatkan umpan balik dari sesama anggotanya, manajemen konflik, kerja sama, dan pembuatan keputusan yang efektif. Jika hal-hal tersebut berhasil dilakukan maka tim tersebut akan dapat menguasai wilayah secara cepat dan efektif, lalu menaklukkan gunung dengan kekuatan dan daya tahan mutlak.

 Sampai
Di sini sebuah tim benar-benar telah mencapai prestasi puncaknya. Dengan kata lain, tim tersebut telah berfungsi sebagai tim yang dinamis.

 Bangkit kembali
Jarang sekali sebuah tim bisa mencapai puncak dengan sekali upaya. Pada kenyataannya, gangguan dan perubahan yang tidak diinginkan sering menghalangi rencana yang paling mantap sekalipun. Apa yang terjadi jika dua anggota tim tersebut keluar? Atau apa yang terjadi jika tiba-tiba organisasi memutuskan untuk merestrukturisasi tim tersebut? Tentulah ketangguhan tim tersebut akan melemah dan mulai tersaruk-saruk. Jika ini yang terjadi maka tim tersebut seharusnya memasuki masa bangkit kembali, mundur untuk melakukan koordinasi. Yang dilakukan bisa saja kembali ke tahap pertama atau tahap kedua bergantung pada permasalahan yang dihadapi.

B. Realisasi dalam Membuat Visi dan Misi LDK
1. Merumuskan Visi LDK
Yang dimaksud dengan visi ialah impian lembaga di masa yang akan datang. Atau secara lengkapnya visi dapat dikatakan sebagai kejelasan pandangan, bukan dalam konteks visual, namun dalam konteks mempersepsi dan memahami sesuatu berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran yang diyakini. Jadi visi tersebut perlu dibuat sebagai ilham bagi setiap langkah yang diambil oleh lembaga. Suatu lembaga harus memiliki visi yang jauh ke depan, luas, dan menyeluruh, serta tidak kaku terhadap sudut pandang yang lain. Maka untuk merumuskannya, menurut B.S. Wibowo dalam buku SHOOT, terdapat beberapa hal yang perlu dipenuhi, yaitu:
 Visi adalah apa yang tampak di khayal atau kemampuan untuk melihat pada inti persoalan.
 Visi adalah bagaimana seluruh anggota lembaga tersebut bersepakat untuk mencapainya.
 Visi merupakan ekspresi dari suatu harapan.
 Visi merupakan penjabaran bagaimana wujud suatu lembaga apabila tujuannya tercapai.
 Visi ditulis dalam bentuk tujuan dalam satu kalimat pendek.
 Visi sebaiknya pendek, singkat, dan spesifik.
 Visi sebaiknya relevan dengan lembaga, dapat dicapai, dan memuaskan.
 Visi hendaknya dapat diukur pencapaiannya, sehingga dapat dikembangkan jika sudah tercapai.
 Visi sebaiknya yang kasat mata sehingga semua orang dapat melihat tujuan, dan dapat menyetujui imajinasinya.
 Visi tidak lepas dari sejarah pendirian dan perkembangan lembaga.

Dalam penentuannya, seluruh anggota lembaga tersebut dapat diminta untuk berkomentar tentang apa yang diinginkan tentang lembaga tersebut pada masa depan, lalu hasilnya diolah sehingga terbentuk sebuah visi. Namun pada kenyataannya, agak rumit menyusun kalimat dan pilihan kata yang mampu mewakili banyak kepentingan.

2. Merumuskan Misi LDK
Yang dimaksud dengan misi ialah arah yang ingin dicapai oleh suatu lembaga, yaitu pernyataan mengenai hal-hal yang harus dicapai organisasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan di masa yang akan datang dengan menyiratkan bentuk pelayanan yang akan ditawarkan dalam pencapaian visi. Dengan demikian misi dapat berarti kristalisasi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh suatu organisasi, dan nilai tersebut merupakan ukuran yang mengandung kebenaran atau kebaikan mengenai keyakinan dan perilaku organisasi yang paling dianut dan digunakan sebagai budaya kerja dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kegiatan untuk mencapai misi dan visi organisasi. Dalam pernyataan misi dijelaskan mengapa organisasi tersebut perlu eksis dan apa manfaatnya di masa yang akan datang. Misi ini akan membedakan antara satu organisasi dengan organisasi sejenis lainnya karena implementasi dari misi bersifat lebih spesifik.

Untuk menyusun sebuah misi terdapat beberapa ciri yang sebagai panduan,
yaitu:
a. Harus bernilai luhur
Misi harus bernilai luhur dan ideal, maksudnya harus berdasarkan nilai-nilai universal yang berasal dari Allah SWT dan bukan berdasarkan nilai-nilai negatif yang cenderung destruktif.
b. Fleksibel
Dengan adanya fleksibilitas misi maka dapat mendukung para pelaksana misi tersebut agar tidak kehilangan daya kretivitasnya dalam mengimplementasikan misi ke dalam bentuk kerja operasional, karena jika suatu misi bersifat terlalu kaku maka kemungkinan terjadinya perubahanperubahan cara untuk mencapai tujuan sangatlah kecil dan hal tersebut dapat mematikan kreativitas si pelaksana. Selain itu fleksibilitas tersebut juga memungkinkan adanya masukan-masukan dari pihak lain terhadap misi kita karena masukan dari luar tersebut biasanya dapat mendatangkan kejelasan dan perspektif yang segar ke dalam proses penulisan pernyataan misi kita.
c. Menarik
Misi yang menarik dapat menyuplai energi baru dan dapat memotivasi para pelaksananya untuk senantiasa menjalankan dan mempertahankan misi dalam kondisi apapun. Hal tersebut dapat memberikan rasa optimis, melahirkan suatu harapan daripada rasa kekhawatiran.
d. Spiritual
Yang dimaksud dengan spiritual adalah misi bersifat non materi atau lebih bersifat abstrak, yang tidak bisa diukur secara kuntitatif namun dapat dirasakan secara subyektif melalui pendekatan kualitatif.
e. Jelas
Misi yang baik adalah yang jelas, agar mudah dipahami dan dihayati, tidak memiliki makna ganda. Misi dengan kata-kata puitis terlihat indah namun kadang-kadang susah dimengerti maksudnya sehingga dapat menyimpangkan arti.
f. Sederhana
Misi sebaiknya dibuat sesederhana mungkin. Sederhana di sini bukan berarti pendek.
g. Susunan dan nada kata-kata harus mencerminkan kepribadian organisasi.
h. Mampu mengidentifikasikan falsafah organisasi.
i. Mampu menggambarkan harapan masyarakat terhadap lembaga tersebut.
j. Menggambarkan ‘self image’ lembaga tersebut.

3. Langkah-langkah Membuat Misi
Setelah mengetahui beberapa paparan teori tentang misi, maka langkah riil yang harus dilakukan adalah membuat misi itu sendiri. Misi sebaiknya tertulis agar mudah diingat, dihafal, dimengerti, dan dihayati. Beberapa langkah dalam membuat misi, yaitu:
a. Menjawab enam unsur misi.
Dalam membuat misi tersebut maka para pelaksananya harus mampu menjawab beberapa pertanyaan seperti:
 Siapa saya (dalam hal ini adalah organisasi)? jawaban harus mencerminkan organisasi secara keseluruhan, tidak secara parsial.
 Mengapa organisasi tersebut ada?
 Apa keunggulan atau kelebihan yang dimiliki oleh organisasi tersebut?
 Untuk siapa ia bekerja?
 Apa hasil atau produk dari organisasi tersebut?
 Di mana mengerjakannya?
b. Menggabungkan jawaban pertanyaan mengenai misi menjadi satu kalimat atau beberapa kalimat.
Setelah menjawab keenam pertanyaan tersebut maka langkah selanjutnya adalah menggabungkan jawaban-jawaban tersebut menjadi sebuah atau beberapa kalimat. Kalimat tersebut harus singkat dan sederhana serta harus mengandung ciri-ciri misi yang telah dijelaskan sebelumnya. Kalimat tersebut tidak harus memakai kata-kata yang sama persis seperti jawaban keenam pertanyaan di atas.

Dakwah Kampus

A. Definisi & Ruang Lingkup
Dakwah kampus adalah implementasi dakwah ilallah dalam lingkup perguruan tinggi. Dimaksudkan untuk menyeru civitas akademika ke jalan Islam dengan memanfaatkan berbagai sarana formal/informal yang ada di dalam kampus. Dakwah kampus bergerak di lingkungan masyarakat ilmiah yang mengedepankan intelektualitas dan profesionalitas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas dakwah kampus merupakan salah satu tiang dari dakwah secara keseluruhan, puncak aktivitasnya serta medan yang paling banyak hasil dan pengaruhnya terhadap masyarakat.

B. Latar Belakang Adanya Dakwah Kampus
 Rasulullah SAW selalu memberikan perhatian yang cukup besar terhadap para pemuda.
 Pentingnya dukungan para pemuda sebagai prasyarat tegaknya suatu pemikiran atau pergerakan.
 Adanya kekhasan mahasiswa Indonesia.
 Pelajaran dari sejarah.
 Masalah regenerasi, pewarisan nilai dan pengalaman merupakan suatu hal yang wajib diperhatikan demi keberlangsungan dakwah.
 Kampus merupakan medan kompetisi antar pergerakan yang lebih terbuka.

C. Keistimewaan Mahasiswa
 Quwwatus-syabaab (kekuatan pemuda)
Sejak zaman Rasulullah SAW, pemuda merupakan barisan utama dalam memperjuangkan risalah Islam. Pemuda memiliki semangat serta dinamis dalam melakukan segala aktivitas. Hal ini yang menjadikan pemuda selalu memberikan banyak pengaruh dalam perubahan sebuah kaum atau bangsa.
 ‘Atho bilaa tahazzub (memberi tanpa berpihak)
Mahasiswa memiliki pandangan jauh ke depan dan mempunyai sebuah pandangan objektif dan rasional dalam banyak hal. Kekuatan prinsip ini menjadikan perjuangan mahasiswa terjaga idealismenya dan mampu menjunjung nilai kejujuran dan kemurnian sebuah perjuangan.
 Qaumun ‘amaliyyun (selalu bekerja)
Wawasan, kompetensi serta kepedulian seorang mahasiswa menjadikan mereka kaum yang progresif dan dinamis. Sifat ini memberikan sebuah energi yang besar dalam bekerja dan beramal secara terus menerus dan dapat mengikuti perubahan zaman.
 Al mar’atu war-rijal (wanita dan pria)
Persoalan umat mencakup wilayah pria dan wanita, sedangkan mahasiswa merupakan komunitas yang terdiri dari pria dan wanita. Sehingga komunitas mahasiswa ini akan mampu memperjuangkan permasalahan umat.
 Laa istibdaad (tanpa keditaktoran)
Mahasiswa tidak bersifat pragmatis terhadap sebuah kepentingan yang bisa memicu perbedaan dan perselisihan. Rasa kebebasan dan kemerdekaan sebagai seorang mahasiswa yang beriman dan berilmu, mendorong mereka terbuka untuk sebuah musyawarah demi mencapai keputusan terbaik.
 ‘Alamiyyah (internasional)
Kesamaan status sebagai mahasiswa, membuat mereka jauh dari fanatisme kedaerahan, agama, maupun ras. Mahasiswa bisa bertemu dan berhimpun bersama atas nama mahasiswa, tanpa batasan bangsa maupun ras.

D. Keistimewaan Dakwah Kampus
 Kampus adalah tempat berkumpulnya para pemuda untuk waktu yang cukup lama baik di dalam maupun di luar bidang kuliah dimana mereka saling berdiskusi dan berdialog, berinteraksi, dan bertukar pengalaman.
 Dakwah kampus merupakan tempat yang paling strategis untuk mencetak kader dan meluluskan tokoh serta pemimpin masyarakat di segala bidang.
 Kampus merupakan gudang ilmu dan rumah penelitian ilmiah, maka ia adalah sarana umat untuk membangun peradaban dan menguasai serta memanfaatkan kemajuan.
 Dakwah kampus merupakan aktivitas yang meluas ke seluruh dunia. Setiap negara memiliki puluhan bahkan ratusan universitas dan institut dengan jutaan mahasiswa.
 Dakwah di kampus memiliki kesempatan yang besar dalam mencetak mahasiswa yang sholeh, warga negara yang berguna dan peduli dengan nasib umatnya.
 Adanya perhatian yang khusus bagi mahasiswa karena ia merupakan separuh dari masyarakat dan tiang pendidikan bagi mereka.
 Kampus adalah lingkungan terbuka, tempat mahasiswa mempelajari nilai-nilai dan melatih diri untuk menerapkannya. Nilai-nilai itu di antaranya adalah nilai-nilai kemerdekaan, demokrasi, dialog, menghargai pendapat orang lain, cinta tanah air dan tanggung jawab.
 Kampus adalah lingkungan yang bebas, dimana semua aliran dapat mengungkapkan pendapatnya.
 Dakwah kampus akan melindungi mahasiswa dari kegiatan-kegiatan yang bersifat negatif.

E. Peran dan Fungsi Mahasiswa
Masyarakat terbentuk dari pribadi-pribadi manusia dan lingkungan yang melingkupinya serta nilai-nilai baku di dalamnya. Jika unsur-unsur ini terjalin dengan seimbang berarti masyarakat itu akan kokoh dan matang. Jika individu adalah dasar setiap masyarakat maka mahasiswa adalah salah satu individu yang paling banyak kontribusinya di masyarakat, paling dinamis dan berpengetahuan. Sehingga dapat dijabarkan bahwa mahasiswa –yang umumnya merupakan kontributor yang paling berpengaruh terhadap perubahan kondisi umat Islam–dapat memiliki fungsi sebagai berikut.
 Da’i ( Guardian of Value )
 Agent of Change
 Iron Stock

Oleh karena itu, jika mahasiswa mengambil peran dalam dakwah kampus, diharapkan dakwah kampus ini akan memiliki da’i-da’i yang tingkat intelektualitasnya tinggi, menjadi cadangan masa depan, dan berfungsi sebagai unsur perubah kondisi bangsa.

F. Urgensi Dakwah Kampus
Sesungguhnya semua tempat di bumi Allah merupakan tempat yang baik untuk berdakwah, di kota atau desa, kantor atau pasar, di kampus atau bahkan di kampung sekalipun. Tidak ada satu tempat pun yang memiliki kemuliaan lebih untuk berdakwah dibandingkan tempat yang lain. Masing-masing memiliki prospek dan tantangannya sendiri-sendiri.

Namun tidak dipungkiri bahwa civitas akademika, kelak akan menjadi bagian yang paling menentukan dalam perubahan masyarakat. Civitas akademika adalah komunitas kecil, elit, yang terdiri dari sedikit orang yang beruntung untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, serta dipercaya oleh masyarakat dan pemegang kekuasaan negara sebagai komunitas yang memiliki kapasitas keilmuan, intelektualitas dan profesionalitas lebih dibanding komunitas lainnya. Oleh karena itu dakwah di kampus, yang juga merupakan bagian kecil dari jalan panjang dakwah Islam ini, menjadi bernilai penting, karena berdakwah di kalangan civitas akademika berarti mengajak komunitas yang memiliki daya gerak tinggi (dengan kapasitas langka, intelektualitas & profesionalitas) terhadap kondisi sosial, yang akan membantu pencapaian tujuan dakwah secara umum, yakni: transformasi menuju masyarakat islami.

G. Tujuan Dakwah Kampus
Berdasarkan keistimewaan mahasiswa dan keistimewaan kampus itu sendiri, tujuan dakwah kampus dijabarkan singkat sebagai berikut. Membentuk dan me-suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam serta optimalisasi peran kampus dalam mentransformasi masyarakat menuju masyarakat islami. Melalui dakwah kampus diharapkan lahir intelektual-intelektual muda yang profesional dalam bidang yang digelutinya dan tetap memiliki ikatan dan keberpihakan yang tinggi terhadap Islam. Merekalah pembaharu-pembaharu yang dapat melakukan perubahan-perubahan kondisi masyarakat menuju kehidupan islami hingga akhirnya terwujudlah cita-cita kebangkitan Islam.

H. Ruang Lingkup Dakwah Kampus
Salah satu karakteristik dakwah adalah syumuliyah atau menyeluruh. Sehingga dalam melakukan aktivitas dakwah haruslah meliputi segala aspek. Akan tetapi dakwah kampus punya orientasi tersendiri dalam menjalankan agenda dakwahnya. Dakwah kampus haruslah punya fokus tertentu agar energi yang telah dikeluarkan oleh seorang aktivis dakwah kampus dapat tersalurkan dengan efektif dan efisien. Ruang lingkup dakwah kampus, yakni:
 Amal assasiyatu dakwah (dasar-dasar dakwah)
Dakwah kampus diharapkan dapat menyampaikan risalah Islam dan menegakkan kalimat-kalimat Allah secara jelas di kampus. Mahasiswa yang menjadi subjek dakwah kampus harus bisa menjadi da’i yang menyeru kepada kebenaran dan menolak kemungkaran.
 Amal khidamy (pelayanan)
Salah satu sasaran dalam dakwah ini adalah bagaimana agar dakwah ini bisa diterima oleh semua kalangan dan Islam menjadi rahmatan lil’alamin. Sebelum mencapai tahapan tersebut Islam haruslah mampu menjadi khidmatul ummah, yakni pelayan umat. Pelayan di sini dimaksudkan memberikan bantuan serta memberikan pelayanan-pelayan yang dibutuhkan objek dakwah agar mereka bisa menjalani aktivitas mereka dengan baik.
 Amal ilmiah fanniyah (ilmu dan profesi)
Tujuan utama mahasiswa di kampus adalah kuliah. Sebagai seorang muslim haruslah memiliki kompetensi akademik yang baik serta betul-betul memahami keilmuan yang dipelajari di bangku kuliah. Mahasiswa merupakan tumpuan bagi bangsa, dan saat ini salah satu solusi dalam mengembalikan kejayaan Islam adalah dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, sehingga peran mahasiswa dalam hal ini sangatlah dominan.
 Amal siyasi (politik)
Mahasiswa memiliki peran sebagai komponen penekan kebijakan pemerintah. Terutama kebijakan yang merugikan rakyat. Patut mahasiswa sadari bersama bahwa masyarakat berharap banyak agar mahasiswa bisa menjadi jembatan perubah kondisi bangsa.

I. Sasaran Dakwah Kampus
Dalam semua aktivitas, dan tentunya juga aktivitas dakwah tentunya sebuah sasaran haruslah dirumuskan agar tujuan umum dakwah dapat tercapai dengan cara dan tahapan yang realistis. Adapun sasaran dakwah kampus tersebut adalah sebagai berikut.
 Membangun kesadaran dan pemahaman Islam.
 Melatih menjadi calon pemimpin.
 Membangun iklim kehidupan keilmuan dan kebebasan dakwah.
 Membangun hubungan dan kerja sama dengan berbagai unsur.
 Terbentuk bi’ah (lingkungan) kondusif.
 Terbentuknya opini ketinggian Islam.
 Terbentuknya kesinambungan barisan dakwah.
 Terbentuknya hubungan timbal balik antara rekrutmen dan pengkaderan.

J. Strategi Dakwah Kampus
Dalam hal ini, objek yang menjadi bidang garapan dakwah kampus ialah civitas akedemika yang meliputi: mahasiswa, dosen, dan karyawan serta masyarakat sekitar. Mengingat objeknya yang demikian itu, maka lingkup kegiatan dari dakwah kampus ialah meliputi: amal pelayanan, ilmiah keprofesian, dan syi’ar Islam. Dalam implementasinya, dakwah kampus haruslah tetap memegang teguh prinsip-prinsip berikut.
 Al-Islam sebagai sistem kehidupan manusia (way of life) yang sempurna dan menyeluruh.
 Iman dan amal shalih sebagai dasar penerapan nilai-nilai Islam di lingkungan kampus.
 Al-Qur’an, As-Sunnah serta Sirah Nabawiyah sebagai dasar aktivitas dan pembinaan.
 Insan kamil sebagai sasaran akhir.
 Intelektualitas dan profesionalitas sebagai karakter seorang muslim.
 Dakwah dan pendidikan sebagai pilar utama dalam pembentukan individu dan masyarakat islami.

Setelah memahami bagaimana prinsip dakwah kampus, tentunya diperlukan strategi yang tepat dalam melaksanakan dakwah kampus itu sendiri. Strategi ini diharapkan dapat menjadi sebuah arahan bagaimana dakwah kampus itu berjalan. Strategi yang menjadi fungsi utama dakwah kampus adalah sebagai berikut.
 Melayani dan melindungi kebutuhan dan kepentingan umat (mahasiswa dan masyarakat), khidmatul ummah.
 Menyebarkan fikroh dan informasi (nasyrudda’wah).
 Membangun opini yang terkait dengan kepentingan dakwah (binna ru’yah Islamiyah).
 Mengembangkan kemampuan SDM dakwah (tanmiyatul kafaah).
 Mencetak figur-figur massa untuk kepentingan sosialisasi pesan dan nilai-nilai Islam ke masyarakat luas (binaa syakhsiyah barizah).
 Menghimpun tokoh dan pakar yang siap memberikan kontribusi pemikiran dan pengaruhnya bagi kepentingan dakwah (tajmi’ syakhsiyaat).
 Menjadi rujukan dalam bidang kompetensi institusionalnya (maroji’ul ummah).
 Membangun jaringan kerjasama (networking) dengan lembaga lain.
 Menjadi komponen penekan yang efektif bagi para pengambil kebijakan pemerintahan.

K. Prospek Dakwah Kampus Masa Depan
Berkaitan dengan itu, terdapat setidaknya tiga faktor pendukung yang menunjang prospek atau harapan berhasilnya dakwah di kampus, yakni:
1. Situasi sekeliling baik internasional, nasional maupun lokal kota/kampus
Saat ini, situasi dunia diwarnai dengan dua hal sekaligus, yakni kebangkitan perjuangan Islam dan penindasan atas kaum muslimin. Di satu sisi, hal ini menunjukkan kepada kita tentang makar orang kafir, tipu muslihat dan kelicikannya. Namun di sisi lain hal ini menunjukkan pula kepada kita tentang kesungguhan, kekuatan dan keberhasilan perjuangan kaum muslimin di beberapa tempat.

Sementara itu, di negeri kita sendiri, setidaknya sejak kurun 90-an, mulai terlihat kesadaran Islam dan suasana keberislaman yang intens di semua kalangan, termasuk kalangan kampus. Suasana ini merebak secara cepat melalui media massa yang ada dan memberikan pengaruh bawah sadar kepada para mahasiswa, khususnya aktivis Islam untuk bergiat terus memajukan Islam di kampus dan juga di kampung.

Harus diakui bahwa proses keberislaman secara intensif ini dimulai di kampus. Fenomena jilbab di tahun 80-an misalnya, bermula dari kampus dan kemudian marak ke mana-mana. Adalah benar bahwa jilbab telah menjadi pakaian biasa di kalangan pesantren, namun jilbab sebagai identitas dan simbol kesadaran Islam tetaplah bermula dari kampus, khususnya kampus-kampus yang kata orang tergolong ‘excellent’.

2. Bahan dasar kader
Keberislaman di tengah masyarakat jahiliyah seperti sekarang memerlukan keberanian, tekad, dan juga intelektualitas; yakni ketajaman pemikiran untuk memahami pesan-pesan keislaman secara apresiatif. Syarat ini dimiliki oleh kader-kader di kampus. Dan ketika pesan-pesan tersebut telah terinternalisasi maka ia berubah menjadi pendorong semangat pengamalan yang intens dan perjuangan yang luar biasa. Buktinya, kasus jilbab misalnya, justru semakin marak kendati ditentang dan dihalangi dengan keras.

Selain itu, dengan kemampuan manajerial yang ada, dakwah kampus terkesan menjadi lebih modern, menarik dan ilmiah. Ramadhan di kampus UGM misalnya, memberikan nuansa tersendiri pada suasana kampus bahkan kota Yogya yang semula biasa-biasa saja. Begitu juga dengan dakwah Islam di Bandung misalnya, tidak lepas dari peran masjid Salman ITB dan masjid Unpad. Demikian pula dengan IPB di Bogor dan Unair di Surabaya.

3. Pengalaman dakwah di kampus pada periode sebelumnya
Dakwah di kampus sesungguhnya telah berumur setua negara ini. Sebelum era 80-an, dakwah atau pengkaderan barulah merupakan fragmen-fragmen tak berkesinambungan. Namun demikian, dakwah pasca 80-an ternyata telah memberikan kontinuitas sehingga secara akumulatif terjadi proses pengayaan pengalaman dakwah. Pengalaman periode sebelumnya dapat dirujuk untuk menyempurnakan dakwah periode berikutnya. Apalagi dengan semakin banyaknya kader dakwah kampus yang mau menekuni dakwah di kampus, menjadikan dakwah di tempat strategis ini semakin terbentuk sosok dan sistemnya.

Berdasarkan faktor-faktor pendukung tersebut maka terdapat harapan bahwa dakwah di kampus mampu memberikan prospek yang cukup baik bagi:
 Terbentuknya kader pejuang Islam dengan ciri dan kualifikasi tertentu; yakni memiliki kepribadian Islam yang tangguh, yang terwujud dalam pengamalan Islam yang intens serta penguasaan ide dan didukung dengan pemahaman Islam yang cukup lengkap, dan juga kemampuan intelektualitas dalam mengapresiasi fakta dan perkembangan mutakhir serta watak kepemimpinan yang menonjol.
 Terbentuknya kampus sebagai sentra alternatif baru bagi pembinaan umat di samping pesantren, masjid dan majelis taklim, dengan tampilan ide yang fundamental, ilmiah, modern melalui kegiatan-kegiatan yang dikemas secara menarik.
 Terbentuknya sentra perubahan dan penentu kecenderungan umat di masa depan menuju kepada kehidupan yang lebih islami.