Kamis, 20 Juni 2013

GHODHDHUL BASHAR 2(selesai)



 Assalamualaikum lagi readers yang disayangi Allah swt, author kembali lagi membawa sebongkah berlian bacaan untuk antum dan antunna amalkan. Untuk yang belum tahu mengenai "Pandangan" ini silakan dinikmati bersama teh anget, dll. untuk yang udah tahu banget tetap stay look and read agar ilmunya segar kembali. marikiii...

Lanjutan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengumbar pandangannya...
6.      Sering berada di tempat-tempat bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan, seperti pasar atau mall.
7.     Merasakan kelezatan semu ketika memandang yang haram sebagai akibat dari lemahnya iman dan tidak hadirnya keagungan Allah swt dalam hatinya. Karena orang yang merasakan keagungan-Nya pasti akan bersedih kalau berbuat maksiat kepada-Nya.
8.   Godaan dari lawan jenis berupa pakaian yang membuka aurat, ucapan, atau gerakan tubuh yang menarik perhatian.

Akibat Negatif Memandang yang Haram

1.      Rusaknya hati.
Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya. Seorang penyair berkata:

لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ
وَكُنْتَ إِذَا أَرْسَلْتَ طَرْفَكَ رَائِدًا
عَلَيْهِ وَلاَ عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ
رَأَيْتَ الَّذِي لاَ كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ

Kau ingin puaskan hatimu dengan mengumbar pandanganmu
Suatu saat pandangan itu pasti kan menyusahkanmu.
Engkau tak kan tahan melihat semuanya,
Bahkan terhadap sebagiannya pun kesabaranmu tak berdaya.

Atau seperti percikan api yang membakar daun atau ranting kering lalu membesar dan membakar semuanya:

وَمُعْظَمُ النَّارِ مِنْ مُسْتَصْغَرِ الشَّرَرِ
كُلُّ الحَوَادِثِ مَبْدَؤُهَا النَّظَرُ

Segala peristiwa bermula dari pandangan,
dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil.

2.      Terancam jatuh kepada zina.
Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina). Penyair berkata:
فَكَلاَمٌ فَمَوْعِدٌ فَلِقَاءُ
نَظْرَةٌ فَابْتِسَامَةٌ فَسَلاَمٌ

Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam,..
Lantas bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu.
3.      Lupa ilmu.
4.      Turunnya bala’
Amr bin Murrah berkata: “Aku pernah memandang seorang perempuan yang membuatku terpesona, kemudian mataku menjadi buta. Ku harap itu menjadi kafarat penghapus dosaku.”
5.      Merusak sebagian amal.
Hudzaifah ra berkata: “Barangsiapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya berarti ia telah membatalkan puasanya.”
6.      Menambah lalai terhadap Allah swt dan hari akhirat.
7.      Rendahnya mata yang memandang yang haram dalam pandangan syariat Islam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ((لَوِ اطَّلَعَ أَحَدٌ فِي بَيْتِكَ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، مَا كَانَ عَلَيْكَ جُنَاحٌ)) (متفق عليه).
Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang melongok ke dalam rumahmu tanpa izinmu, lalu kau sambit dengan kerikil hingga buta matanya, tak ada dosa bagimu karenanya.” (Muttafaq ‘alaih).


Manfaat Menahan Pandangan

Diantara manfaat menahan pandangan adalah:
1.      Membebaskan hati dari pedihnya penyesalan, karena barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka penyesalannya akan berlangsung lama.
2.      Hati yang bercahaya dan terpancar pada tubuh terutama mata dan wajah, begitu pula sebaliknya jika seseorang mengumbar pandangannya.
3.      Terbukanya pintu ilmu dan faktor-faktor untuk menguasainya karena hati yang bercahaya dan penuh konsentrasi. Imam Syafi’i berkata:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي            فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ العِـلْمَ نُـوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْـدَي لِعَاصِي
Kuadukan kepada Waki’, guruku, tentang buruknya hafalan
Arahannya: “Tinggalkanlah ma’siat.”
Diberitahukannya bahwa ilmu itu cahaya,
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.
4.      Mempertajam firasat dan prediksi
Syuja’ Al-Karmani berkata:
مَنْ عَمَرَ ظَاهِرَهُ بِاتِّبَاعِ السُّنَّةِ، وَبَاطِنَهُ بِدَوَامِ الْمُرَاقَبَةِ، وَغَضَّ بَصَرَهُ عَنِ الْمَحَارِمِ، وَكَفَّ نَفْسَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَأَكَلَ مِنَ الْحَلاَلِ- لَمْ تُخْطِئْ فِرَاسَتُهُ.
“Siapa yang menyuburkan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, menghiasi batinnya dengan muraqabah, Menundukkan Pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, dan memakan yang halal maka firasatnya tidak akan salah.”
5.      Menjadi salah satu penyebab datangnya mahabbatullah (cinta Allah swt).
Al-Hasan bin Mujahid berkata:
غَضُّ البَصَرِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ يُوْرِثُ حُبَّ اللهِ.
Menahan pandangan dari apa yang diharamkan Allah swt akan mewarisi cinta Allah.

Faktor-faktor Penyebab Mampu Menahan Pandangan

Di antara faktor yang membuat seseorang mampu menahan pandangannya adalah:
1.      Hadirnya pengawasan Allah dan rasa takut akan siksa-Nya di dalam hati.
2.      Menjauhkan diri dari semua penyebab mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan.
3.      Meyakini semua bahaya mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan.
4.      Meyakini manfaat menahan pandangan.
5.      Melaksanakan pesan Rasulullah saw untuk segera memalingkan pandangan ketika melihat yang haram.
6.      Memperbanyak puasa.
7.      Menyalurkan keinginan melalui jalan yang halal (pernikahan).
8.      Bergaul dengan orang-orang shalih dan menjauhkan diri dari persahabatan akrab dengan orang-orang yang rusak akhlaqnya.
9.      Selalu merasa takut dengan su’ul khatimah ketika meninggal dunia.
 Sekian. Wassalam.

Selanjutnya bakalan ada materi tentang "Keutamaan Tilawah dan Mengkhatamkannya". 
Like, Comment dan Share Please..
Author/Admin -MH-

Selasa, 18 Juni 2013

GHADHDHUL BASHAR 1



Assalamualaikum Readers, lamaaa rasanya tidak mengunjungi plus mengupdate blog tercinta ini. Author yang banyak salah tapi kiyut minta maaf yang sebesar-besarnya. Setelah ini akan diupdate secara berkala. selamat menikmati santapan iman kali ini. cekidot.

*MENAHAN PANDANGAN*

Makna Menahan Pandangan

Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau Menundukkan Pandangan.[1] Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali atau menundukkan kepala ke tanah saja, karena bukan ini yang dimaksudkan di samping tidak akan mampu dilaksanakan. Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain lalu ia tidak mengamat-amati kecantikan/kegantengannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya.[2] Dengan kata lain menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk kita memandangnya.[3]

Dalil Kewajiban Menahan Pandangan

1.      Al-Quran:
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. (An-Nur [24]: 30-31).

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata min dalam min absharihim maknanya adalah sebagian, untuk menegaskan bahwa yang diharamkan oleh Allah swt hanyalah pandangan yang dapat dikontrol atau disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja dimaafkan. Atau untuk menegaskan bahwa kebanyakan pandangan itu halal, yang diharamkan hanya sedikit saja. Berbeda dengan perintah memelihara kemaluan yang tidak menggunakan kata min karena semua pintu pemuasan seksual dengan kemaluan adalah haram kecuali yang diizinkan oleh syariat saja (nikah).[4]
Larangan menahan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan karena pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina.

2.      Hadits Rasulullah saw:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي  (رواه مسلم).
Dari Jarir bin Abdillah ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya. (HR. Muslim).

Maksudnya jangan meneruskan pandanganmu, karena pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu dimaafkan, tapi bila diteruskan berarti disengaja.

((لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ تَنْظُرُ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ)). (رواه مسلم وأحمد وأبو داود والترمذي).
Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh bersatu (bercampur) dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian. (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi). 
((يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ)) [رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني].
Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Al-Bani).
((الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ)) [متفق عليه].
Dua mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang. (Muttafaq ‘alaih).
Penyebab Mengumbar Pandangan

Diantara faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengumbar pandangannya adalah:
1.      Mengikuti hawa nafsu dan ajakan syaithan
2.      Jahil (tidak tahu) terhadap akibat negatif mengumbar pandangan, diantaranya bahwa mengumbar pandangan itu penyebab utama zina.
3.      Hanya mengandalkan dan mengingat ampunan Allah swt dan lupa terhadap ancaman siksa-Nya.
4.      Melihat atau menyaksikan media yang porno atau berbau pornografi baik cetak, elektronik, atau internet.
5.      Tidak menikah atau menunda pernikahan bagi mereka yang sebenarnya telah siap untuk menikah.

To be continued~~ (maaf memutus bacaan kalian, tunggu goresan berikutnya) ^_^

Author -MH-


[1] Berasal dari kata غَضَّ  yang berarti  كَفَّ (menahan) atau نَقَصَ (mengurangi) atau خَفَضَ (menundukkan). Lihat: Tajul ‘Arus 1/4685, dan Maqayisul Lughah 4/306.
[2] Yusuf Al-Qaradhawi, Halal & Haram, hlm 171.
[3] Tafsir At-Thabari 19/154, Ibnu Katsir 6/41.
[4] Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, Al-Qurthubi, 1/3918.

Senin, 01 April 2013

TRADISI -Training Jati Diri Siswa-






Akhir Maret, Ahad 31/03/2013. Lembaga Dakwah Kampus Al-Azhar yang dikepalai oleh Akhi Irham Rahmat mengadakan training untuk kaula muda yang dikhususkan pada Sekolah Menengah Atas. Acara ini dinamakan TRADISI (Training Jati Diri Siswa), dengan tema “Menjadi Pemuda Yang Cerdas, Kreatif, dan Berakhlaq Mulia”. Acara ini juga berlangsung selama kurang lebih empat jam, dari pukul 08.00 pagi hingga mencapai waktu dhuhur. “Jumlah yang sedikit tidak mengubah semangat kami sebagai panitia di sini, karena bisa jadi yang sedikit inilah yang berkualitas” imbuh Abdul Salam selaku ketua panitia. Akhuna fil Islam, Sri Wahyudi, CH, CHt. yang mengisi trainer Be 100% Amazing itu juga tampak tidak terganggu dengan jumlah peserta yang ada, mahasiswa semester delapan Al-Azhar itu juga kini telah merampungkan buku pertamanya yang berjudul “Be 100% Amazing” yang ditulis duet dengan adiknya. Semangatnya yang cetar membahana, --istilah yang digunakan Ukhti Astrid Wijayanti yang saat itu menjadi MC— sangat patut diapresiasi.
Dalam acara ini panitia memberi doorprize kepada dua peserta terantusias, masing-masing perwakilan ikhwan dan akhwat. Nurfadhillah M, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Negeri 13 mewakili peserta terantusias dari akhwat. Siswi yang juga perwakilan rohis dari sekolahnya ini sangat berterimakasih karena telah diundang ke sebuah acara yang katanya “Amazing!”. Ia juga berharap setelah mengikuti training ini bisa menjadi orang yang lebih baik lagi kedepannya, dan kampus STAI Al-Azhar bisa lebih dikenal meluas ke seluruh masyarakat. Setelah itu ada Muhammad Abrar, perwakilan peserta terantusias dari ikhwan berharap setelah mengikuti training ini ia bisa menjadi lebih semangat dalam menyusun target-target hidupnya untuk menjadi lebih baik. (cut.)
Giving thanks to:
·      Panitia dan seluruh crew dibalik TRADISI yang sudah menjalankan kegiatan dengan professional dan berani.
·      Pemateri yang sangat bersemangat, juga memberikan atmosfer kebaikan ke sekitarnya.
·      Dan yang terpenting, para peserta yang begitu antusias. ALLAHU AKBAR


     



Author by MH
Nb: Tanggal pada ket. Foto salah 

Kamis, 28 Maret 2013

Pemahaman Melahirkan Defenisi

Kita selalu amat tergoda ingin mendefenisikan sesuatu, padahal itu tidak baik. Selalu lebih bijak jika memberikan contoh lewat kisah, simbol, atau kiasan, lantas membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri dan memahaminya lebih baik menurut roda fikiran mereka sendiri.


Tiga kisah di bawah ini sesungguhnya adalah tulisan seorang penulis novel yang sangat produktif, Tere Liye. Mendefenisikan makna ‘sabar’ dengan cerita.
Seorang remaja disuruh Ibunya menunggu di pintu pasar, sementara Ibunya akan berbelanja di dalam selama empat jam. Maka apa itu sabar?
1. Si remaja menunggu empat jam, tidak beranjak dari pintu pasar, hingga Ibunya datang. Satu dua dia mengeluh, aduh, alangkah lamanya Ibu. Bertahan lagi. Tergoda hendak duluan pulang. Bertahan lagi. Mengeluh lagi, aduh, apa sih yang Ibu beli. Tapi syukurlah meski berkali2 tergoda, mengeluh, dia tetap di pintu gerbang itu selama empat jam.
2. Si remaja menunggu empat jam, tidak beranjak dari pintu pasar, hingga Ibunya datang. Tidak sekalipun dia tergoda, tidak sekalipun dia mengeluh. Dia sungguh yakin, Ibunya akan muncul setelah empat jam berlalu, dan mereka bisa pulang bersama. Selesai. Keren sekali, empat jam yang hebat. Si remaja berdiri gagah di pintu gerbang, tersenyum yakin.
3. Si remaja menunggu empat jam, tidak beranjak dari pintu pasar, hingga Ibunya datang. Aduhai, dia tidak sekali tergoda, tidak sekalipun mengeluh, yakin Ibunya akan muncul, dan tidak hanya itu. Dia memutuskan diri untuk menyibukkan diri di pintu pasar itu. Ada nenek2 repot membawa belanjaan ke atas becak di pintu gerbang, dia bantu dengan sukarela. Ada anak-anak yang tersesat, ditinggal orang tuanya, dia bantu lapor ke petugas keamanan di pintu gerbang. Bahkan dia sempat belajar memperhatikan bagaimana pedagang dawet yang mangkal di sebelahnya. Jadi tahu bagaimana tips membuat dawet yang enak. Juga bercakap-cakap dengan pedagang lain. Mencatat banyak hal dalam pikiran. Empat jam berlalu tidak terasa, banyak sekali kebajikan dan ilmu bermanfaat yang diperolehnya, hingga Ibunya keluar dari pasar.
Nah, apa itu sabar? Sabar adalah.... Tidak. Tidak my dear anggota page(facebook); kalianlah yg seharusnya menemukan definisi-defenisi itu. Dengan memperhatikan, dengan mengamati, dengan mendengarkan nasehat2 yang baik. Dipikirkan, direnungkan. Maka, mau seperti apa orang lain mendefinisikan sesuatu--dalam hal ini definisi sabar, kalian memiliki versi sendiri yang kalian yakini, lantas gunakan dalam hidup keseharian. Itulah sebenar2nya definisi.
Dan itulah juga yang selalu disebut: pemahaman yang baik.
Note: “Semoga tulisan ini bermakna buat anda, para aktivis dakwah dalam memahami segala yang bersangkutan dengan dunia dakwah. Bahwa memberi pemahaman tak selalu harus lewat defenisi, tapi sentuh medan anda dengan memperhatikan, dengan mengamati, dengan mendengarkan nasehat2 yang baik. Dipikirkan, direnungkan. Maka timbullah defenisi sesungguhnya” Jazakillah khairan jaza..

Sahabat dan Persahabatan

   Agama islam memeberikan penghargaan kepada persahabat yang tulus dan memotivasi orang-ornag mukmin untuk mengikhlaskan persahabat karena Allah dan mencari ridhanya, serta persahabatan yang di jaga itu, akan mendapatkan pahala besar yang pantas baginya. Rasulullah saw Bersabda, 
sab_atun yudziluhumullahu fii dzillahi yauma laa dzilla illaa dzilluhu; imaamun 'adilun wasyaabun nasyaa'a fii ibadatillahi ta'aala warajulun qalbuhu muallaqun bil masjidi izaa kharaja minhu hatta ya'uuda ilaihi, warajulaan tahaabbaa fiillahijtama_a alihi watafarraqaa alaihi, warajulun dzakarallahu khaaliyan fafaadhot aenaahu, warajulun da'atshu  amraatun dzaatu hasabin wajamaalin fqala innii ikhaafullaha ta_aala, warajulun tasaddaqa bisodaqatin fa_akhfaaha hatta laa ta'lamu syimaaluhu maa tunfiqu yamiinuhu
Artinya :''Ada tujuh golongan yang di naungi Allah awtpada hari tiada naungan melainkan naungan melainkan naungan Allah, yaitu: pemimpin yang adil, pemuda/pemudi yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, orang yang hatinya tertaut dengan mesjid ketika ia keluar sampai ia kembali ke mesjaid, dua orang yang mencintai karena Allah swt. lalu keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah; orang yang berdzikr kepada Allah di waktu sepi hingga berlinang air matanya; seorang laki-laki yang di ajak seorang perempuan yang cantik dan terhormat namun ia menolak, seraya berkata 'aku takut kepada Allah'; orang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang di infakan oleh tangan kanannya.'' ( HR. Bukhari. )

Rasulullah Saw Bersabda,
'' Ada seorang laki-laki mengunjungi saudaranya karena Allah, lalu Allah mengutus satu malaikat untuk mengawasinya. Lalu malaikat bertanya, ''Hendak ke mana engkau?'' dia menjawab, '' aku ingin mengunjungi saudaraku yaang bernama fulan,'' Malaikat itu berkata. ''Apa keperluanmu dengannya?'' Dia berkata. ''Tidak ada.'' Malikat itu bertanya lagi, ''Apakah kamu punya hubungan kerabat dengannya?"  Ia menjawab, ''Tidak.'' Malikat bertanya lagi, ''Apakah kamu ingin membalas jasanya?" Ia menjawab, "Tidak." Malaikat itu bertanya lagi, ''Lantas mengapa kamu mengunjunginya?" Ia Menjawab, "Karena aku mencintainya karena Allah." Malaikat  itu berkata, "Kalauj begitu, sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu untuk mengabarkan kepadamu bahwasannya Allah mencintaimu karena cintamu kepada saudaramu, dan Dia menetpkanmu di surga.'' ( HR. Muslim. )

   Kata shadiq dalam bahsa Arab bereti teman. terambil dari kata shidq (jujur). Maksudnya, orang yang di sebut teman itu adalah orang yang jujur falam menyayangi dan menasehati. 

   Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadits qudsi,
    ''Allah berfirman, 'Kecintaanku di tetapkan untuk orang saling mencintai karenaku. Kecintaaanku di tetapkan untuk orang saling berkunjung karena-Ku. Kecintaanku ditetapkan untuk orang yang saling memberi karena-Ku. DAn kecintaanku ditetepkan untuk orang yang slaing berteman karena-Ku. ( HR. Muslim. )

   Pertemanan memiliki pengaruh yang sangat kuat, sehingga kita di anjurkan untuk lebih berhati-hati dalam memilih teman. Bahkan kita di larang berteman dengan ahli kitab dan orng yang suka bebuat dosa. sesuai yang di sabdakan Rasulullah saw,
       ''Seseorang itu mengikuti agama te,annya. Karena itu, hendaklah setiap hari kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman.'' ( HR> Abu Dawud. )